Mitra Dakwah
Oleh:
Muhammad Yusron
(B94219087)
Rifqi
Abdillah(B94219093)
Nanda Ferdi
Maulana (B94219089)
Kelas D3
Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Asisten Dosen II:
Baiti Rahmawati, S.Sos
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur alhamdulillah kepada Allah SWT. yang telah memberi nikmat dan rahmatnya
kepada kita sehingga dapat kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, solawat serta
salam tidak lupa kami panjatkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Terima kasih
kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom.I serta
ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan ilmunya sehingga dapat
mengerjakan tugas ini.
Saya
berharap buku ini bisa memberikan manfaat kepada para pembaca dengan mengetahui
beberapa tipe dari mitra dakwah.
Surabaya,
26 Agustus 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................ ii
DAFTAR ISI........................................... 1
BAB I PEMBAHASAN......................... 2
A.
Mitra Dakwah
Perspektif Teologis... 3
B.
Mitra Dakwah
Perspektif Sosiologi.. 6
C.
Prioritas Mitra
Dakwah..................... 11
BAB II PENUTUP.................................. 16
A.
Kesimpulan....................................... 16
DAFTAR PUSTAKA............................. 19
BAB 1
PEMBAHASAN
Mitra atau istilah lainnya al mad’u adalah orang yang menjadi obyek
dakwah [1]
. Dalam dakwah pasti ada obyek yang dituju. Mereka adalah seluruh
manusia, entah mereka yang sudah memeluk agama islam pun juga yang belum, sebab
misi hadirnya islam adalah rahmatan lil
alamin.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
‘’Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua
umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Saba’: 28)
Dakwah memiliki banyak
arti, yaitu keinginan, seruan, panggilan, mohon pertolongan, sumpah[2] . Kata dakwah
berasal dari bahasa Arab yakni دعا– يدعوا – دعوة (da’a - yad’u - da'watan). Kata dakwah tersebut
merupakan ism masdar dari kata da’a. Salah 4satunya dipakai dalam
al qur’an surat al qamar ayat 6 ,” Ingatlah hari ketika seorang penyeru
(malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan ”. Dalam ayat
tersebut da’a diartikan sebagai
“seruan” sesuai konteks kalimatnya.
A.
Mitra Dakwah Perspektif
Teologis
Ada dua
pembahasan teologis terkait dengan mitra dakwah, yaitu sejauh mana dakwah telah
menjangkau mereka dan bagaimana klasifikasi keimanan mereka setelah menerima
dakwah[3].
Sejauh mana dakwah menjangkau maksudnya adalah sudah atau belum materi
materi dakwah tersampaikan kepada mereka. Jika sudah, pertanyaan selanjutnya
apakah materi-materi tersebut dipahami atau tidak, diterima atau ditolak,
dilaksanakan atau diacuhkan. Sedangkan klasifikasi keimanan adalah penggolongan
tingkatan keimanan pada mitra dakwah. Ada orang yang setelah menerima dakwah
dia langsung mau berbenah, tipe orang seperti ini lambat laun akan masuk pada
golongan orang yang memiliki keimanan yang tebal. Disisi lain ada orang yang
setelah menerima dakwah tidak mau berbenah, sehingga mereka tetap pada golongan
orang dengan keimanan yang tipis.
Permasalahan
yang pernah muncul berkaitan dengan status orang yang sudah atau belum pernah
menerima dakwah islam dikaji dalam polemik teologis tentang peranan akal dan
wahyu membentuk perbuatan manusia. Golongan mu’tatazilah berpendapat bahwa akal
tidak hanya bisa membedakan antara perbuatan baik dan buruk, tetapi juga dapat
menjelaskan kewajiban melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan
buruk. Sebaliknya, Asy’ariyah memandang bahwa hanya wahyu yang bisa menilai
perbuatan baik dan buruk, sekaligus menegaskan kewajibannya.
Manusia yang
hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. setelah wafatnya Nabi Isa a.s. –di masa itu vakum dari risalah kenabian -,
atau suku-suku terasing yang ada di pelosok pedalaman dan sangat berkemungkinan
belum pernah kedatangan seorang pendakwah pun. Bagi golongan mu’tazilah yang
mengedepankan akal, orang tersebut berdosa jika melakukan perbuatan burukdan
mendapatkan pahala jika melakukan perbuatan baik. Dengan akal ia mengetahui
kedua perbuatan tersebut, meskipun ia belum pernah menerima dakwah islam.
Kalau
dilihat dari sisi seberapa jauh dakwah telah menjangkau mereka, Bassam
al-shabagh (t.t.:86) membagi mitra dakwah menjadi tiga kelompok[4],
yaitu :
1.
Kelompok yang
pernah menerima dakwah.kelompok ini terdiri dari tiga kelompok juga, yaitu :
a.
Menerima dengan
sepenuh hati (mukmin);
b.
Menolak dakwah
(kafir); dan
c.
Pura-pura
menerima dakwah (munafik).
2.
Kelompok yang
belum pernah sama sekali menerima dakwah. Kelompok ini terdiri dari dua
kelompok, yaitu:
a.
Orang-orang
yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.
b.
Orang-orang
yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW.
3.
Kelompokyang
mengenal islam dari informasi yang salah sekaligus menyesatkan.
Dari sudut kualitas
keimanan mitra dakwah,rosulullah
membaginya menjadi empat golongan,dijelaskan dalam sabdanya :
“Hati (manusia) itu
terbagi atas empat, yaitu hati yang tidak ternodai seperti lampu yang bersinar,
hati yang tertutup karena terikatoleh tutupnya, hati yang terbalik, dan hati
yang tertempa. Adapun hati yang tidak ternodai ialah hati orang yang beriman,
Lampu hatinya merupakan cahayanya. Adapun hati yang tertutup ialah hati orang
yang kafir. Hati yang terbalik ialah hati orang munafik. Ia mengetauhui kebenaran,
tetapi ia mengingkarinya. Adapun hati yang tertempa ialah hati yang
didalamnyaada keimanan dan kemunafikan. Perumpamaan iman dalam hati laksana
sayuran yang ditumbuhkan oleh air yang segar. Adapun kemunafikan dalam hati
laksana luka yang diperparah oleh nanah dan darah. Di antara keduanya(iman dan
munafik ) yang dominan atas yang lain berarti yang mengalahkannya”(Ahmad bin
hambal,t.t.,III, 17).
Istilah kata mukmin itu sering dipakai oleh
orang-orang dari pada istilah-istilah
lainnya yang aslinya artinya sama, seperti orangsaleh, orang muslim, orang yang
mendapat petunjuk. Orang mukmin adalah mereka yang membenarkan ajaran islam
dengan lisan, menyakini dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatan. Kalau
dilihat dari perbandingan antara kebajikan dan dosa nya, mitra dakwah dibagi
menjadi tiga golongan , dan sudah dijelaskan dalam al qur’an :
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ
عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ
سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ
ṡumma auraṡnal-kitāballażīnaṣṭafainā
min 'ibādinā, fa min-hum ẓālimul linafsih, wa min-hum muqtaṣid, wa min-hum
sābiqum bil-khairāti bi`iżnillāh, żālika huwal-faḍlul-kabīr
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih
di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri
sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan
dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar”(QS.
Faatir[35]ayat 32).
Dari ayat tersebut orang mukmin itu di bagi menjadi tiga tingkatan
:
1.
Orang mukmin
antara dosa dan kebaikannya banyak dosanya ( dholimunlinafsih).
2.
Orang mukmin
antara dosa dan kebaikannya sama (muktasid).
3.
Orang mukmin
antara dosa dan kebaikannya banyak kebaikannya(saabiqun bi al khoirot).
Menurut
Ibnu Katsir (1997, III: 577), ayat diatas (faatir [35]ayat 32), menerangkan
keadaan umat Nabi Muhammad SAW. Mereka terbagi menjadi tiga tingkatan[5],
yaitu:
1.
Umat yang
menganiaya diri sendiri (dhalimun
linafsih), yakni mereka hanya melaksanakan sebagian kewajiban dan
melaksanakan sebagian hal yang diharamkan. Ini adalah tingkatan umat Nabi SAW
yang terendah.
2.
Tingkatan
diatasnya adalah mereka yang melaksanakan kewajiban agama serta meninggalkan
yang dilarang agama, namun mereka jarang melakukan hal yang dianjurkan (sunnah)
dan kadang-kadang melakukan perkara yang dianjurkan untuk dijauhi (makruh).Ini
yang dimaksud mereka yang ada di pertengahan (muqtashid).
3.
Tingkatan
tertinggi adalah mereka yang lebih dahulu berbuat kebaikan (saabiqun bi
al-khoirot). Mereka sangat tekun melakukan kewajiban dan sunah-sunah
B.Mitra Dakwah Menurut Perspektif Sosiologi
Manusia adalah makhluk soial artinya
manusia tidak bisa hidup sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam kajian mitra
dakwah manusia dapat di lihat dari dua sudut pandang, yaitu: manusia secara
individu dan manusia secara berkelompok. Berdasarkan jenis kelamin ada
laki-laki dan perempuan dan manusia berkelompok pasti mempunyai perbedaan antar
masing-masing kelompok seperti yang dinyatakan dalam surat al-hujuraat (49) 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah
orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal. (QS. Al-hujuraat [49]: 13)[6]
Dari
ayat di atas bahwasannya manusia tidak bisa hidup tanpa berhubungan dengan
orang lain. Awal dari hubungan tersebut diawali dengan interaksi sosial. Dalam
perkembangannya hubungan tersebut dapat berubah menjadi hubungan yang lebih
erat salah satunya mitra dakwah.
Abu
al-Fath al-Bayanuni (1993: 169) mengatakan, mitra dakwah (al-mad’u) adalah
siapa pun yang menjadi sasaran dakwah.[7] Mitra
dakwah bukan sebagai objek dakwah ataupun sasaran dakwah,dikarenakan supaya
pendakwah dan mitra dakwah saling bertukar pikiran. Apabila mitra dakwah tidak
aktif atau tidak berkontibusi maka bisa disebut objek dakwah. Seorang pendakwah
bukanlah orang yang paling benar di muka bumi ini sehingga antara pendakwah dan
mitra dakwah bisa bertukar pikiran,berbagi pengetahuan tentang pesan dakwah.[8]
Pesan
dakwah sendiri merupakan suatu pesan dari pendakwah kepada mitra dakwah dengan
tujuan saling berbagi ilmu dan mitra dakwah juga berkontribusi dalam hal
tersebut dengan menanggapi pesan yang disampaikan oleh pendakwah,karena di situ
statusnya mitra dakwah bukan objek dakwah.
Sedangkan
dakwah sendiri adalah upaya untuk mengajak orang kepada kebaikan dan meninggakan
perbuatan yang sesat. Dengan dakwah seseorang akan diajak untuk mengamalkan
ajarannya supaya menjadi manusia yang lebih unggul dimata Allah SWT dan manusia
yang lainnya.[9]
Dakwah
bisa dikatakan sebagai rekayasa sosial, karena dapat mempengaruhi masyarakat
untuk berubah. Dalam hal ini seorang pendakwah melakukan dakwah dengan berbagai
macam ajakan. Dengan ajakan ini sesorang bisa mengetahui dan mengamalkan
nilai-nilai ajaran islam yang baik dan apabila mitra dakwah bukan muslim di
ajak menjadi muslim. Dan yang sudah mendalami diajak untuk mengamalkan.[10]
Mengamalkan
ilmu itu sesuatu yang wajib bagi orang yang mempunyai ilmu, karena seseorang
yang tidak mengamalkan ilmunya itu bagaikan pohon tidak ada buahnya. Ilmu yang
bermanfaat itu bisa dikatakan setelah kita mengamalkannya sendiri dan ilmu yang
barokah itu bisa kita amalkan sendiri dan diamalkan oleh orang lain.
Sosiologi
dakwah adalah ilmu yang membahas tentang uapaya untuk memecahakn
masalah-masalah dakwah dengan pendekatan sosiologis[11]
Didalam
masyarakat pasti terdapat masalah-masalah yang dapat menimbulkan konflik
didalam masyarakat dengan dakwah melalui pendekatan sosiologi bisa menemukan
solusi dari permasalah tersebut asalkan masyarakat tersebut menjadi mitra
dakwah bukan objek dakwah.
Ada
salah satu teori didalam sosiologi dakwah yaitu teori stuktural fungsionalisme.
Teori ini lebih condong kepada fakta sosial seperti salah satu tokoh yang yang
sangat condong pembahasannya kepada fakta sosial yaitu Emile Durkheim.[12]
Struktur terbentuk dari dimulainya terbentuknya masyarakat dari satu orang
terbentuk menjadi sebuah masyarakat dengan adanya nilai-nilai masayarakat.
Untuk
menjadi masyarakat yang baik terdapat tiga faktor yang telah Allah firmankan
dalam kitab sucinya
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ
فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka
berkat rahmat Allah engkau (Muhummad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan memohonkan ampunan untuk
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila
engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sunngguh,
Allah mencintai orang yang bertawakkal. (QS.Ali Imraan [3]: 159).
Berdasarkan
ayat di atas, ada tiga faktor penting menuju terwujudnya masyarakat yang baik,
yaitu sebagai berikut.
1. Pemimpin yang lemah lembut
dan pemaaaf
Sebuah
masyarakat pasti mendambakan seorang pemimpin yang baik yang mencintai kepada
masyarakat, bersikap lemah lembut dan memafkan masyarakatnya apabila melakukan
kesalahan.
2. Menegaskan asas musyawarah
Musyawarah
sangat penting dalam pengambilan keputusan didalam masyarakat, karena dengan
musyawarah seseorang diajari menghargai pendapat orang lain. Sehingga
keputusannya jelas dan tidak menimbulkan pertentangan.
3. Bertawakkal kepada Allah SWT
Sebelum
orang bertawakkal keepada Allah kita harus berusaha dulu, kita
tidak boleh memasrahkan hidup kita kepada Allah sepenuhnya. Meskipun
sebaik-baik rencana kita tetap harus di sandarakn kepada Allah.[13]
Masyarakat
bukanlah sekedar suatu penjumlahan individu semata, melainkan suatu sistem yang
dibentuk dari hubungan antar mereka.[14]
Masyarakat terbagi dua golongan ada masyarakat organik dan mekanik atau
masyarakat pedesaan dan perkotaan dengan ciri-ciri:
1. kehidupan keaagamaan di kota
berkurang dari pada pedesaan.
2. orang-orang kota pada umumnya
dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung orang lain
3.pembagian kerja antara warga
kota lebih tegas dan punya batas-batas nyata
4.jalan pikiran rasional pada
umunya dianut masyarakat kota
5. perubahan sosial tampak
dengan nyata, karena masyarakat kota biasanya terbuka dalam menirima pengaruh
luar.
Adapun
masyarakat desa bertentangan dengan ciri di atas.[15] Dengan
perbedaan di atas kita sebagai pendakwah bisa membedakan cara kita saat
berdakwah dikalangan masyarakat desa dan kota dan langkah kita untuk
menciptakan msyarkat yang sejahtera harus menyesuaikan dengan pola masyarakat.
Fungsinya kita mengkaji mitra dakwah dari prespektif sosiologi itu supaya kita
mengetahui pola didalam masyarakat tersebut dan dengan pendekatan-pendekatan
supaya tercipta masyarakat yang sejahtera.
C. Prioritas Mitra Dakwah
Prioritas dakwah adalah kegiatan
dakwah yang tertuju pada sesuatu yang dianggap utama dalam proses
pendakwahannya , sedangkan [16]dakwak
pada hakikatnya adalah upaya yang menumbuhkan kecenderungan dan ketertarikan
pada apa yang selalu kita serukan, yakni islam.
1. Mitra dakwah prioritas diri
sendiri
mitra dakwah diri sendiri dapat diartikan sebagai intropeksi diri
yakni perenungan atas dosa dosa yang pernah kita lakukan dimasa lampau dan
berusaha bertaubat agar tidak mengulanginya lagi
Ketika kita melakukan dakwah terhadap diri sendiri kita dapat
belajar dari kisah nabi ibrahim yang sadar akan ketidakbenaran bahwah menyebah
patung adalah perbuatan yang salah. Meski dia dilahirkan di keluarga pembuat
patung berhala akan tetapi nabi Ibrahim terus mencari kebenaran dala dirinya.
Oleh karena itu kita harus dapat memotivasi diri sendiri dalam hal
kebaikan seperti yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim as. Apalagi kita adalah
umat nabi Muhammad SAW. yang dalam ajaran islam rohmatanlilalamin. [17]
2. Mitra dakwah prioritas keluarga
Mitra dakwah di lingkungan keluarga harus didahulukan sebelum
berdakwah ke masyarakat luas. Hal itutelah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang
mengajak istrinya mengikuti agama Allah SWT terlebih dahulu sebelum mengajak
orang lain. Akan tetapi tidak semua anggota keluarga cepat merspon positif
ajakan kita sebagaimana Khadijah. Kadang kala perlawanan dakwah justru datang
dari keluarga kita sendiri.
Dari cerita diatas kita dapat mengetahui pentingnya berdakwah atau
mengajarkan ilmu agama terhadap keluarga kita sendiri, agar kelak keluarga kita
tidak terjerumus kedalam hal hal ketidakbenaran. Seperti halnya Rasulullah yang
senantiasa selalu mengajarkan ilmu keislaman kepada anak anaknya. Karena
berdakwah kepada keluarga merupakan prioritas untuk mendukung semua kegiatan
dakwah kita.
Adapun keluarga yang menolak dakwah kita , seperti halnya keluarga
nabi nuh istri dan anaknya menolak ajaran yang dibawa nabi Nuh as. Dari cerita
nabi nuh tersebut seharusnya dapat mengambil hikmah yaitu rahmad Allah adalah
yang terpenting dari usaha dakwah kita. meskipun keluarga seorang nabi-pun
jikalau rahamad Allah tidak datang niscaya kemustahilan hidayah baginya.
3. Mitra dakwah prioritas masyarakat
Mitra dakwah di masyarakat adalah kegiatan dakwah dalam lingkup
yang luas yaitu terjun langsung ke masyarakat . hal tersebut adalah yang paling
berat dibandingkan dakwah terhadap keluarga karena mental dan kepercayaan atas
pertolongan Allah harus lah sangat kuat. Biasanya banyak pertentangan yang
timbul dalam masyarakat yang diakibatkan oleh perbedaan golongan dan perbedaan
pendapat.
Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW seorang pendakwah
harus mempunyai wibawa kepada kaumnya dan dapat mempertanggung jawabkan apa
yang telah dia samaikan kepada masyarakat
Adapun pertentangan dakwah dalam masyarakat yakni seperti kaum
Qurayish mereka menolak dakwah yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. pertentangan
mereka terhadap agama islam sangatlah keras bahkan tidak sedikit kaum muslimin
disiksa dan dibunuh karena mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW. tetapi
Rasulullah tidak pernah menyerah dalam berdakwah karena inti dari berdakwah
adalah kesabaran dan percaya akan pertolongan Allah SWT. Keteladanan beliau
sangatlah patut untuk dicontoh dalam berdakwah pada saat ini .
Komunikasi Rasulullah dalam berdakwah
[18]Secara sederhana, komunikasi menurut teori barat dapat dipahami
sebagai penyampaian pesan dari komunikator (penyampai pesan) kepada komunikan
(penerima pesan) melalui media sehingga menimbulkan feedback (pengaruh/umpan
balik).
Dasar
komunikasi versi islam berbeda 180 derajat dengan dasar komunikasi versi barat.
Teori islam mengajarkan untuk hifdzul lisan (menahan aatau menjaga
lisan). Sedangkan teori barat mengajarkan untuk banyak bicara atau menyampaikan
pesan.
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan menjaga lisan dalam berkata kata karena lisan lebih tajam dari pisau karena dapat melukai hati , Rasulullah dalam berdakwah sangat menjaga lisannya bahkan abu bakar pernah berkata “tidak ada kata kata paling indah selain dari rasulullah”.
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan menjaga lisan dalam berkata kata karena lisan lebih tajam dari pisau karena dapat melukai hati , Rasulullah dalam berdakwah sangat menjaga lisannya bahkan abu bakar pernah berkata “tidak ada kata kata paling indah selain dari rasulullah”.
Komunikasi
dalam berdakwah juga harus didasari oleh kejujuran dan berpedoman kepada
al-qur’an hadist agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penyelewengan
ajaran islam.
Ayat al-qur’an yang menjelaskan tentang dakwah
وَلْتَكُنْ
مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan
mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali
imran[3]:104)
Dalam ayat
diatas kita dapat menyimpulkan bahwa berdakwah adalah perintah Allah SWT kepada
manusia agar menyebar kebaikan dan melarang dalam hal keburukan.
Untuk
itulah kita harus senantiasa mengerjakan amal sholeh agar mencerminkan perilaku
yang baik dan dapat ditiru sebagai pembelajaran dalam berdakwah. pendakwah
diharuskan untuk juga untuk dapat menjaga amanah agar setiap omongan dan
prilaku pendakwah dapat dipercaya dan diterima oleh masyarakat hal tersebut
sangatlah penting bagi pendakwah dalam proses dakwah.
Dan dari ayat tersebut Allah SWT telah berfirman bahwasannya
orang yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar adalah
orang orang yang beruntung. Karena mereka telah berjuang di jalan Allah dan
mengikuti Rasulnya yaitu berdakwah menyebarkan kebaikan islam.
Dalam
berdakwah kita juga harus tau posisi kita sebagai apa dan berdakwah kepada
siapa, maksudnya adalah ketika kita berdakwah kepada orang yg lebih tua kita
harus tau bahasa yang kita gunakan dalam berdakwah agar dapat diterima dengan
mudah dikalangan orang yang lebih tua dari kita. Dakwah ini dinamakan dakwah
secara vertikal
Sedangkan
dakwah secara horizontal adalah berdakwah kepada orang yang statusnya sama
dengan kita, contohnya istri yang dicontohkan nabi Muhammad yang berdakwah ke
khadijah istrinya agar senantiasa mendapat dukungan dan support keluarga.
Prinsip-prinsip
prioritas mitra dakwah
1.
Yaitu
berdakwah kepada masyarakat yang belum sama sekali mengenal islam , seperti
yang dicontohkan nabi Muhammad yang berdakwah kepada orang kafir quraisy
2.
Berdakwah
kepada orang tua yang ajalnya dianggap sudah dekat daripada berdakwah kepada
orang yang dianggap harapan hidupnya lebih panjang
3.
Berdakwah
kepada para pemimpin karena dianggap lebih dapat mempengaruhi daripada
berdakwah kepada bawahannya. Dan bawahan akan senantiasa mengikuti apa yang
diperintahkan pemimpinya
4.
Berdakwah
kepada orang dewasa yang sudah berkewajiban daripada berdakwah kepada anak anak
yang belum mempunyai kewajiban
5.
Berdakwah
kepada orang yang mau masuk islam atau yang baru masuk islam daripada orang
yang sudah lama masuk islam karena orang yang baru masuk islam akan lebih
membutuhkan dasar dasar agama islamyang kuat agar mempertebal keimanannya.
Hal ini sangat penting untuk
diketahui pendakwah agar pesan dalam dakwahnya mampu diterima dengan baik.
Prinsip prioritas diatas dapat dikembangkan lebih luas dengan pedoman umum
bahwah mitra dakwah yang lebih strategis harus diprioritaskan. Ukuran
penerimaan dakwah dapat menggunakan kategori tahapan iman, dalam tahapan
keimanan dapat dilihat dari perubahan keimanannya.
BAB 2
PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdakwah
merupakan perintah Allah SWT dan kewajiban bagi setiap umat muslim untuk
mengamalkan ilmu yang diperoleh. Mitra dakwah adalah orang yang didakwai dan
ikut berkontribusi dalam kegiatan dakwah tersebut agar terciptannya masyarakat
yang sejahtera. Tidak hanya itu sebagai pendakwah haruslah percaya diri agar
apa yang disampaikan oleh pendakwah bisa diterima dikalangan masyarakat. Dan
juga pendakwah harus mengetahui mitranya dari beberapa prespektif agar tidak
salah dalam menyampaikan dakwahnya.
Cara
kita berdakwah harus menentukan kondisi dari mitra dakwahnya dari segi
teologis, sosiologis, dan prioritasnya. Apabila kita berdakwah sesuai dengan
aspeknya maka dakwah kita bisa bermanfaat dan dapat difahami oleh mitranya.
DAFTAR
PUSTAKA
Mustofa, luthfi. Melenyapkan hantu terorisme dari dakwah kontemporer. Jakarta: Pustaka al-kautsar. 2008.
Aziz, Moh
Ali. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2017.
Syarif, Faqih. Menjadi Da’i Yang Dicintai, Jakarta: PT gramedia Pustaka Utama. 2011.
Gunara, Thorik. KOMUNIKASI
RASULULLAH, Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009.
Sholeh, Shonhadji. Sosiologi
Dakwah. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2011.
Basrowi. pengantar
sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia. 2005.
Yani, Ahmad. 170 Materi Dakwah
Pilihan. Depok: Al Qalam. 2014
[1] Mustofa luthfi, melenyapkan
hantu terorisme dari dakwah kontemporer(jakarta: pustaka al-kautsar, 2008),h.52
[2] Mustofa luthfi, melenyapkan hantu terorisme dari dakwah
kontemporer(jakarta:pustaka al-kautsar, 2008), hh.5-6
[3] Moh. Ali. Aziz, ilmu dakwah, cet
6(jakarta:kencana,2017),h.228
[4] Moh Ali Aziz, ilmu dakwah,
cet 6(jakarta:kencana, 2017),h.229
[5] Moh Ali Aziz, ilmu dakwah,cet
6(Jakarta:kencana, 2017), hh. 234-235
[13] Ahmad Yani, 170 Materi Dakwah Pilihan, Cet 2 (Depok: Al-Qalam,2015),
hh.31-32
[14] Basrowi, Pengantar sosiologi, Cet 1 (Bogor: Ghalia Indonesia,2005),
h.40
[15] Basrowi, Pengantar sosiologi, Cet 1 (Bogor: Ghalia Indonesia,2005),
h.59
[16] N. FAQIH SYARIF H. , Menjadi Da’i Yang Dicintai, jakarta, PT
gramedia Pustaka Utama, 2011, pertama, halaman 2
[17] Moh. Ali Aziz, ILMU DAKWAH, Jakarta, PT. Fajar Interpratama
Mandiri, 2004, Keenam, halaman 260
[18] Thorik Gunara, KOMUNIKASI RASULULLAH, Bandung, Simbiosa
Rekatama Media, 2009, pertama, halaman 1 dan 3
Makalahnya sudah bagus ,tpi ada yg perlu dibenahi lagi yaitu tatanan nya ,krn masih ada yg koncar kacir
ReplyDeleteSangat bermanfaat dan menginspirasi kita sebagai kaum milenial yang mengerti apa itu mitra dakwah
ReplyDeleteAlhamdulillah bagus materinya mudah dipahami sehingga pembaca bisa mengetahui mitra dakwah,semoga bermanfaat
ReplyDeleteAlhamdulillah. Materi nya bermanfaat , membantu sekali untuk mempermudah mencari tentang materi dakwah
ReplyDeleteMatap makapahnya tetapi masih kurang di penulisan arabnya ada yg kurang jels
ReplyDeleteMasya Allah, mantab. Makalah ini sangat mengedukasi dan bermanfaat. Semoga penulis lebih baik dalam berkarya kedepannya. Syukron.
ReplyDeletePenyajian materi yang mudah dipahami oleh khalayak umum. Sangat bermanfaat bagi kami selaku kaum penimba ilmu untuk dijadikan bahan acuan dan referensi bacaan. Terima kasih banyak 😊
ReplyDeleteAlhamdululillah saya sangat terbantu dengan makalah ini, semoga makalah selanjutnya juga bermanfaat bagi pembaca
ReplyDeleteMasyaAllah, kajian sangat bagus Dan mudah di mengerti . Semoga kajian ilmu ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin
ReplyDeleteSangat bagus artikelnya dan menginspirasi kaum milenial untuk menulis artikel tersebut
ReplyDeleteMasha Allah, thanks a lot for your article, cause this i know what i should to know, subhanallah
ReplyDeleteBagus sekali makalahnya, namun ada yang perlu diperbaiki lagi untuk kedepannya.
ReplyDeleteSEMANGAT!!!
Makalahnya bagus, rapi. Materinya lengkap. Menginspirasi juga buat para pembaca.
ReplyDeleteMakalahnya sudah bagus, kalau pingin lebih baik lagi tinggal di kembangkan saja kata kata ataupun materinya.
ReplyDelete